DAMPAK PENGGUNAAN TEKNOLOGI HANDPHONE TERHADAP EFEKTIVITAS BELAJAR PESERTA DIDIK
(Studi Pada Mts Al-Ikhwan, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi
Utara)

MOHAMMAD AMIN BONDE
NIM:131012111
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Meraih
Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Pada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
Jurusan Pendidikan Agama Islam
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
IAIN SULTAN AMAI GORONTALO
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam upaya menghadapi
tantangan globalisasi dan juga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
tentunya hal ini, perlu di setarakan
dengan kualitas manusia melalui jalur pendidikan yang bermutu. Menurut Sudarwan
Denim dikutip dalam bukunya bahwa ”kemajuan kita sebagai suatu bangsa tidak
bisa lebih cepat dari pada kemajuan kita di bidang pendidikan. Pikiran manusia
adalah sumber daya dasar kita”.[1]
Sehingga dengan majunya pendidikan akan menjadi solusi untuk menyelamatkan
manusia itu sendiri dari bahaya akan pengaruh external yang akan membentuk
kepribadian yang tidak berlandaskan pada etika dan moral yang pada hakikatnya
di miliki oleh setiap manusia itu sendiri, Sehingga hanya perlu di tanamkan
dalam prinsip kepribadiannya.
Islam memandang manusia
merupakan mahluk Allah dengan segala potensinya yang sempurna sebagai khalifah fil ardh, dan terbaik diantara
mahluk lainnya.[2] Manusia mempunyai
kemampuan untuk melihat masa depan. Dengan akal pikirannya manusia
mengembangkan ilmu pengetahuan dan menciptakan teknologi yang diingininya. Oleh
sebab itu, antara ilmu dan teknologi saling berkaitan erat karena tanpa ilmu
tidak ada penerapan baru untuk teknologi dan tanpa teknologi tidak ada yang
akan menikmati penemuan ilmu.
Indonesia merupakan Negara yang letak geografis berada
pada jembatan antara Barat dan Timur
tengah sehingga dengan kondisi yang seperti ini memudahkan untuk masuknya berbagai
budaya baik yang dari Timur tengah ataupun dari Barat. Dan ketika kualitas
sumber daya manusia Indonesia ini berada di bawah dibandingkan dengan negara
yang di sekelilingnya, maka hal inilah yang mendasari sehingga Indonesia
menjadi negara konsumen. Berbagai macam trasformasi ilmu dan teknologi masuk
dengan mudahnya dan di konsumsi oleh semua masyaraka Indonesia, hampir
keseluruhan dan tidak memandang umur.
Pada
dasarnya perkembangan IPTEK dengan tujuan untuk mempermudah atau mempercepat
penyelesain pekerjaan manusia. Seperti kehadiran Handphone ditangan masyarakat, merupakan alat yang sangat membantu
masyarakat dalam segala urusan. Sebagian besar para remaja mengatakan
bahwa tujuan utama menggunakan handphone
adalah, “Sebagai alat komunikasi dan sebagai penyambung silaturahmi, sebagai
hiburan, dan tidak menutup kemungkinan sebagai alat tambahan membantu dalam
belajar”.
Hal ini tidak bisa di pungkiri lagi
sebagian besar masyarakat Indonesia terlebih khususnya peserta didik yang
menjadi pengguna handphone. Dengan
adanya perkembangan di bidang teknologi ini yang lebih canggih, sudah
dilengkapi dengan berbagai aplikasi tambahan yang memudahkan untuk mengakses
berbagai macam informasi baik yang di landaskan pada nilai etika dan moral
ataupun sebaliknya yang mempunyai dampak negatif terhadap pendidikan peserta
didik. Fakta membuktikan bahwa perkembangan teknologi saat ini sama sekali
tidak meningkatkan prestasi belajar peserta didik. berbeda dengan prestasi
peserta didik pendahulu kita dengan segala keterbatasannya bisa menciptakan
pemuda yang berkualitas. Para peseta didik masa kini dengan adanya teknologi
saat ini mereka masih saja kurang berprestasi. Seperti seorang yang naik dan
diserang angin kencang, maka semakin kuat seseorang berpegangan. Namun ketika datang angin pelan yang menyejukan
justru membuat seseorang jatuh perkembangan teknologi deibaratkan angin pelan
tersebut.
Menurut Farid dikutip dalam bukunya
bahwa karena, “budaya baca kita yang
semakin rendah membenarkan pendapat bahwa kita lebih cenderung sebagai a speaking nation (berbicara) dari
pada reading nation (membaca) atau
katakanlah masyarakat wacana (discourse
community) masi amat langka ditanah air. Kondisi ini menciptakan suatu
keadaan yang disebut sebagai “kolonialisme elektronik”. Kolonialisme elektronik
merupakan kurun waktu ketika supremasi Negara pemilik dan pengguna teknologi
elektronik telah mengendalikan tidak hanya gaya hidup tetapi juga kesadaran
akan kreatifitas yang bersahaja.[3]
Pada saat ini, banyak anak muda yang
menggunakan barang elektronik yang sudah canggih. Salah satunya adalah handphone yang berbasis smartphone yang sering kita gunakan
untuk alat berkomunikasi. Handphone yang
kita gunakan umumnya digunakan untuk berkomunikasi, tapi tidakkah anda tau
bahwa anak muda sering menyalah gunakannya, yaitu untuk melihat hal yang
semestinya tidak patut mereka lihat seperti gambar atau video porno apalagi sebagai pelajar. Sekalipun belum ada
pembuktian secara akademis, bahwa maraknya peristiwa penyimpangan seksual dan
pernikahan dini saat ini adalah didorong oleh penyalah gunaan tekologi seperti
situs porno di handphone. Perilaku
pelajar dewasa ini semakin menjadi-jadi. Tak sedikit pelajar yang ketahuan
menyimpan video dan foto yang tidak berpendidikan di handphone.
Selain itu dengan adanya koneksi
keinternet melalui handphone ini yang
tidak dibatasi oleh situs yang dilandaskan pada nilai etika dan moral atau dengan
kata lain bernuansa negatif seperti tersedianya situs porno, yang lebih muda
diakses oleh siapapun sehingga kebanyakan peserta didik juga melakukan
demikian, dan ini mempengaruhi tingkat belajar peserta didik, secara otomatis hal
ni mempengaruhi usaha guru dalam memcapai pembelajaran yang efektif.
Tidak bisa dipungkiri perkembangan
teknologi Handphone misalnya smartphone atau telepon genggam yang
jenis android dengan berbagai macam
aplikasi, tentunya juga sangat membantu untuk
menyelesaikan berbagai macam pekerjaan, terlebih khususnya bagi
peserta didik juga berguna untuk mempercepat, mempermudah untuk menyelesaikan
tugas akademik seperti membantunya mendapatkan materi pembelajaran melalui google, browser atau aplikasi
lainnya. Dengan begitu peserta didik mengumpulkan tugas dengan tepat waktu,
tidak perlu jauh-jauh pergi ke warnet untuk mencari materinya. Namun perlu
diingat bahwa Smartphone ini juga dilengkapi
dengan berbagai jenis aplikasi hiburan yang berpengaruh terhadap proses belajar
peserta didik. Pada dasarnya jenis aplikasi hiburan seperti game yang bisa mengasah logika anak juga
sangat diperlukan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ini akan membuat anak
ketagihan sehingga membuatnya lupa untuk belajar atau menyelesaikan tugas
akademik.
Demikian terjadi di MTs Al-Ikhwan
kecamatan Dumoga Barat kabupaten Bolaang Mongondow, sebagian besar peserta
didik menggunakan handphone saat di waktu jam sekolah sehingga kosentrasi belajar tidak
tertuju pada pelajaran yang di terima, beberapa peserta didik hasil belajarnya
menurun.
Dari
pihak sekolah belum ada upaya penanggulangan masalah ini secara serius,
sebelumnya sudah ada aturan yang di buat namun
belum diberlakukan secara disiplin, sehingga masih ditemukan peserta
didik yang secara aktiv menggunakan handphone.
Dari kondisi seperti
inilah yang kemudian mendorong penulis untuk melakukan tindakan lanjutan
melalui penelitian ilmiah dengan judul
“Dampak Penggunaan Handphone
Terhadap efektivitas belajar Peserta didik
di MTs Al-Ikhwan, kecamatan Dumoga Barat, kabupaten Bolaang Mongondow,
provinsi Sulawesi Utara”.
B. Rumusan Masalah
Berdaasarkan masalah diatas maka dapat
dirumuskan masalahnya sebagai berikut :
1.
Bagaimana dampak penggunaan handphone terhadap
efektivitas belajar peserta didik di MTs Al-Ikhwan ?
2.
Bagaimana upaya madrasah dalam menanggulangi dampak
penggunaan teknologi handphone
terhadap efektifitas belajar peserta didik di MTs Al-Ikhwan?
C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas maka
tujuan penelitian ini adalah:
1.
Untuk mengetahui dampak penggunaan teknologi handphone terhadap efektivitas belajar peserta didik di MTs Al-Ikhwan.
2.
Untuk mengetahui upaya madrasah dalam penanggulangi dampak penggunaan teknologi handphone terhadap efektivitas belajar
peserta didik di MTs Al-Ikhwan.
D. Manfaat Penelitian
1.
Manfaat teoritis
a.
Bagi penulis penelitian ini berguna untuk menambah
pengetahuan bagaimana dampak teknologi handphone
terhadap efektifitas belajar peserta didik,.
b.
Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan acuan dalam
mengatasi dampak negatif teknologi handphone
atau sejenisnya serta menjadi bahan bagi pendidik untuk meningkatkan
efektifitas belajar peserta didik.
2.
Manfaat praktis
Secara garis besar atau praktisnya di
harapkan bagi semua pihak baik orang tua, pendidik dan peserta didik yang masi
duduk di bangku sekolah supaya dapat memahami dan mengerti dampak positif dan
dampak negatif dari perkembangan teknologi hanphone yang sangat berpengaruh
bagi peserta yang masih duduk di bangku sekolah.
E.
Pengertian Judul Dan
Definisi Operasional
Untuk lebih memudahkan dalam memahami
isi dari tulisan ini maka penulis menguraikan beberapa pengertian istilah
sebagai berikut:
a.
Teknologi handphone merupakan
alat komunikasi elektronik dua arah yang bisa dibawa kemana saja dan memiliki
kemampuan untuk mengirimkan pesan berupa suara. Pengertian tersebut merupakan pengertian handphone secara umum. Dalam keseharian kini manusia
hampir tidak bisa lepas dari handphone.
Apalagi dengan semakin berkembangnya handphone
sehingga handphone memiliki berbagai
fungsi sekaligus. Bukan hanya sebagai alat komunikasi saja namun telah
berkembang menjadi alat dengan fungsi lainnya seperti sebagai media hiburan,
media bisnis, dan sebagainya.
b.
Menurut kamus besar bahasa indonesia, kata efektif mempunyai
arti efek, pengaruh, akibat atau dapat membawa hasil. Jadi, efektivitas adalah
keaktifan, daya guna, adanya kesesuaian dalam suatu kegiatan orang yang
melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju. Efektivitas pada dasarnya
menunjukkan pada taraf tercapainya hasil.[4]
c.
Menurut Irish Murdoch, belajar adalah kemajuan moral karena
merupakan asketisisme, mengurangi egoisme dan memperluas konsepsi kita
tentang kebenaran, juga memberikan visi yang lebih
dalam, lebih tajam dan lebih bijak
tentang dunia. apa yang harus diajarkan disekolah, yakni memberi perhatian dan
mengerjakan semuanya dengan benar. kekuatan kreatif memerlukan kemampuan ini.
studi intelektual dan keterampilan menghasilkan kualitas kesadaran baru,
kedalam persepsi dan kemampuan mengamati.[5]
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan
yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan tingkah laku tersebut akan nyata
dalam seluruh aspek tingkah laku.[6]
d.
Peserta didik adalah setiap manusia yang berusaha
mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan
baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan
jenis pendidikan tertentu.
F.
Telaah Pustaka
Penelitian tentang pengaruh alat
komunikasi handphone dalam bidang pendidikan, dengan judul “Pengaruh Budaya Penggunaan
Alat Komunikasi Handphone Terhadap Akhlak Siswa Di SMK Al-Hidayah
Cinere” Penelitian tersebut dilakukan oleh Pailin, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tahun 2010. Penelitian tersebut terdapat pengaruh yang positif antara variabel X yaitu budaya penggunaan handphone dengan variabel Y yaitu akhlak siswa dengan kategori cukup atau sedang, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa alat komunikasi handphone berpengaruh terhadap akhlak siswa.
Alat Komunikasi Handphone Terhadap Akhlak Siswa Di SMK Al-Hidayah
Cinere” Penelitian tersebut dilakukan oleh Pailin, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tahun 2010. Penelitian tersebut terdapat pengaruh yang positif antara variabel X yaitu budaya penggunaan handphone dengan variabel Y yaitu akhlak siswa dengan kategori cukup atau sedang, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa alat komunikasi handphone berpengaruh terhadap akhlak siswa.
Kemudian penelitian yang dilakukan oleh
Ahmad Fadilah yang juga dalam bidang pendidikan dengan judul “Pengaruh penggunaan alat komunikasi handphone (hp) terhadap
aktivitas belajar siswa SMP negeri 66 Jakarta Selatan” Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah fakultas ilmu tarbiyah dan keguruan pada tahun 2011. dalam
penelitian ini Perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi sudah sedemikian cepat sehingga tanpa kita sadari
sudah mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia. Selain itu perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi memang mempunyai dampak yang positif bagi
manusia tapi dapat juga berdampak negatif jika perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi saat ini tidak dipergunakan sebagai mana mestinya yaitu
khususnya pada alat komunikasi handphone.
Dalam penulisan skripsi ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan
menggunakan “metode statistik deskriptif analisis yaitu metode yang ditujukan
untuk mendesrifsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik berupa
alami maupun rekayasa manusia dengan sifat kajiannya menggunakan ukuran, jumlah
atau frekuensi” dan ditunjang oleh data-data yang diperoleh melalui penelitian
lapangan (field research) yaitu
mengumpulkan data dari objek yang diteliti. dari hasil penelitian ini terdapat korelasi positif yang kuat atau
tinggi antara penggunaan alat komunikasi handphone
(HP) terhadap aktivitas belajar siswa di SMP Negeri 66 Jakarta selatan.
Penelitian skripsi ini memiliki
kesamaan dan perbedaan dengan kedua penelitian diatas. Adapun persamaannya
membahas tentang bagaimana dampak ataupun pengaruh dari penggunaan teknologi handphone dalam dunia pendidikan. Dan
perbedaanya pada variabel yang dipengaruhi atau pada objek yang diteliti,
penelitian sebelumnya berpusat pada ahlak peserta didik dan aktivitas belajar
peserta didik. Sedangkan pada penelitian ini objek yang diteliti berpusat pada
efektivitas belajar peserta didik.
BAB II
KAJIAN TEORI
A.
Kajian Konseptual Teknologi Handphone
1. Pengertian Teknologi Handphone
Kata teknologi berasal dari bahasa Yunani, techne yang berasti “keahlian” dan logia
yang berarti “pengetahuan”. Dalam pengertian yang sempit, teknologi mengacu
pada obyek benda yang digunakan untuk kemudahan aktivitas manusia, seperti
mesin, perkakas, atau perangkat keras[7].
Dalam pengertian yang lebih luas teknologi dapat meliputi:
pengertian sistem, organisasi, juga teknik. Akan tetapi, seiring dengan
perkembangan dan kemajuan zaman, pengertian teknologi menjadi semakin meluas,
sehingga saat ini teknologi merupakan sebuah konsep yang berkaitan dengan jenis
penggunaan dan pengetahuan tentang alat dan keahlian, dan bagaimana ia dapat
memberi pengaruh pada kemampuan manusia untuk mengendalikan dan mengubah suatau
yang ada desekitarnya.
Kata teknologi secarah harfiyah berasal dari bahasa latin texere yang berarti menyusun atau
membangun, sehingga istila teknologi seharusnya tidak terbatas pada penggunaan
mesin meskipun dalam arti sempit hal tersebut sering digunakan dalam kehidupan
sehari-hari[8]
Jadi teknologi adalah semacam perpanjangan tangan manusia
untuk dapat memanfaatkan alam dan suatu yang ada disekelilingnya secara lebih
maksimal. Dengan demikian, secara sederhana teknologi bertujuan untuk
mempermudah pemenuhan kebutuhan manusia.
Teknologi komunikasi
adalah peralatan perangkat keras, organisasi, struktur dan nilai-nilai sosial
yang digunakan individu untuk mengumpulkan, memproses dan bertukar informasi
dengan individu lainnya. Selanjutnya, yang lebih penting adalah sifat dan
bagaimana fungsi media baru bagi sebagian besar orang untuk bertukar informasi.
Menurut Rusman dikutip dalam bukunya bahwa teknologi dapat
dipahami sebagai "upaya" untuk mendapatkan suatu "produk"
yang dilakukan oleh manusia dengan memanfaatkan peralatan (tools), proses dan sumberdaya (resources).[9]
Teknologi dalam arti ini dapat diketahui melalui barang-barang,
benda-benda, atau alat-alat yang berhasil dibuat oleh manusia untuk memudahkan
realisasi hidupnya di dalam dunia. Hal dimana juga memperlihatkan tentang wujud
dari karya cipta dan karya seni manusia selaku homo technicus. Dari sini muncullah istilah “teknologi”, yang berarti
ilmu yang mempelajari tentang “techne” manusia. Tetapi pemahaman seperti itu
baru memperlihatkan satu segi saja dari kandungan kata “teknologi”. Teknologi
sebenarnya lebih dari sekedar penciptaan barang, benda atau alat dari manusia
selaku homo technicus atau homo
faber. Teknologi bahkan telah menjadi suatu sistem atau struktur dalam
eksistensi manusia di dalam dunia. Teknologi bukan lagi sekedar sebagai suatu hasil dari daya cipta yang
ada dalam kemampuan dan keunggulan manusia, tetapi ia bahkan telah menjadi
suatu “daya pencipta” yang berdiri di luar kemampuan manusia, yang pada
gilirannya kemudian membentuk dan menciptakan suatu komunitas manusia yang
lain.
Teknologi juga penerapan keilmuan yang mempelajari dan mengembangkan
kemampuan dari suatu rekayasa dengan langkah dan teknik tertentu dalam suatu
bidang. Teknologi merupakan Aplikasi ilmu dan engineering untuk mengembangkan mesin dan prosedur agar memperluas
dan memperbaiki kondisi manusia atau paling tidak memperbaiki efisiensi manusia
pada beberapa aspek.
Dalam bentuk yang paling
sederhana, perkembangan teknologi dihasilkan dari pengembangan cara-cara lama
atau penemuan metode baru dalam menyelesaikan tugas-tugas tradisional seperti bercocok
tanam, membuat baju, atau membangun rumah.
Perkembangan teknologi
memang sangat penting untuk kehidupan manusia jaman sekarang. Karena teknologi
adalah salah satu penunjang perkembangan manusia. Dibanyak belahan masyarakat,
teknologi telah membantu memperbaiki kehiduoan social dan ekonomi masyarakat.
Telepon genggam sering disebut handphone (HP) atau
telepon selular (ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama
dengan telepon konvensional saluran tetap, namun dapat dibawa kemana-mana
(portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan
kabel.[10] Handphone tersebut, merupakan pengembangan
teknologi telepon yang dari masa kemasa mengalami
perkembangan, yang dimana perangkat handphone tersebut dapat digunakan sebagai
perangkat mobile atau berpindah pindah sebagai sarana komunikasi,
penyampaian informasi dari suatu pihak kepihak lainnya menjadi semakin efektif
dan efesien.
Begitu
besar pengaruh kemajuan teknologi terhadap nilai-nilai kebudayaan yang dianut
masyarakat, baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Kemajuan teknologi
seperti televise, telepon dan telepon genggam (handphone), bahkan internet bukan hanya melanda masyarak kota,
namun juga telah dapat dinikmati oleh masyarakat di pelosok-pelosok desa.
Akibatnya , segala informasi baik yang bernilai positif maupun negatif, dapat
dengan mudah di akses oleh remaja. Dan di akui atau tidak perlahan-lahan akan
mulai mengubah pola hidup dan pola pemikiran pada kuhusunya remaja dalam hal ini
para peserta didik itu sendiri.
2.
Sejarah Singkat
Kemunculan Teknologi Handphone
Sejarah
telepon seluler atau yang kita kenal dengan sebutan handphone, ternyata sudah ada dari jaman penjajahan, yaitu
kira-kira tahun 1947 di negara paman sam alias Amrik dan Eropa sana. Pada tahun
1910 adalah cikal bakal telepon seluler yang ditemukan oleh Lars Magnus
Ericsson, yang merupakan pendiri perusahaan Ericsson yang kini di kenal dengan
perusahaan Sony Ericsson. Pada awalnya, orang Swedia ini medirikan perusahaan
Ericsson memfokuskan terhadap bidang bisnis perlayan telegraf, dan perusahaanya
juga tidak terlalu besar pada waktu itu.
Menurut
Zambrana teknologi handphone pertama
kali diperkenalkan 3 April 1973. Komunitas bisnis telepon bergerak mengingatnya
sebagai hari lahirnya handphone. Saat
itu untuk pertama kalinya pembicaraan jarak jauh dengan perangkat telefon
bergerak portable dilakukan. Yang
pertama kali mencobanya adalah Martin Cooper. Ide handphone datang dari Cooper yang bermimpi untuk membuat alat
komunikasi yang fleksibel. Ia menginginkan untuk dapat keluar dari keterbatasan
telefon tetap (fixed phone). Handphone Mr. Cooper ini memiliki berat
hampir 1 kg dengan ukuran tinggi 33 cm. Sebagai teknologi baru, handphone tersebut tidak langsung dijual
ke masyarakat, perlu waktu sampai 10 tahun sampai tersedia layanan komersial
telepon bergerak.[11]
3.
Fungsi Teknologi Handphone
Menurut Dewa dikutip dalam bukunya bahwa Ponsel atau handphone
kini merupakan sahabat wajib yang tidak bisa lepas dari diri masyarakat
Indonesia. Berdasarkan paparan data Consumer Lab Ericsson, selain sebagai alat
komunikasi, handphone memiliki fungsi lain. Dari riset ditahun 2009,
terdapat lima fungsi handphone yang
ada di masyarakat. Handphone yang dulunya hanya berfungsi sebagai alat
komunikasi, kini pun telah berubah. Berikut persentase 5 fungsi handphone bagi
masyarakat Indonesia:[12]
1.Sebagai alat Komunikasi agar tetap terhubung dengan teman
ataupun keluarga = 65%
2. Sebagai simbol kelas masyakarat =
44%
3. Sebagai penunjang bisnis = 49%
4. Sebagai pengubah batas sosial
masyarakat = 36%
5. Sebagai alat penghilang stress = 36%.
Memang jelas manfaat handphone terbesar yaitu sebagai
alat komunikasi agar tetap terhubung dengan teman ataupun keluarga, sesuai
dengan fungsi awalnya, dan selain fungsi di atas handphone tersebut bisa
bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang kemajuan teknologi dan untuk
memperluas jaringan, dan handphone tersebut juga bisa sebagai penghilang
stress karena berbagai feature handphone yang beragam seperti kamera,
permainan, Mp3, video, radio, televisi bahkan
jaringan internet seperti yahoo,
facebook, twitter, dan lainnya.
4. Dampak Handphone
Pada Peserta Didik
Banyak orang percaya bahwa banyak sekali dampak handphone
pada proses belajar peserta didik. Handphone
sendiri atau yang biasa disebut dengan handphone
ini tentu bukan hal asing lagi bagi para pendidik. Bila dulu penggunaannya mungkin
hanya terbatas pada pendidik sekolah tingkat atas dan universitas, zaman
sekarang peserta didik SMP/MTs bahkan SDpun
sudah banyak yang memiliki handphone.
Tak bisa dipungkiri bahwa handphone memang punya beragam manfaat, tak hanya bagi orang
kantoran atau orang dewasa lainnya, tapi juga bagi para pelajar. Namun, seiring
dengan perkembangan zaman, banyak pula dampak negatif handphone yang merugikan para peserta didik.
a.
Dampak Positif Handphone
Pada Peserta Didik
menurut Rahmi Untuk mengetahui lebih jauh apa saja pengaruh handphone peserta didik, berikut adalah beberapa contoh kegunaan
handphone dari segi positif.
1.
Mempermudah komunikasi.
Dengan handphone peserta didik bisa
berkomunikasi dengan pendidik ataupun orang tua meski sedang berada ditempat
yang berbeda misalnya ketika peserta didik dirumah bisa berkomunikasi dengan
pendidik dan ketika peserta didik di sekolah bisa berkomunikasi langsung dengan
orang tua.
2.
Menambah pengetahuan
tentang perkembangan teknologi.
Sekarang
ini teknologi telah mengalami perkembangan pesat dengan berbagai macam produk
teknologi yang canggih dengan mempunyai handphone
peserta didik akan terlatih dengan sendirinya dalam menggunkan teknologi
sehingga tidak membuatnya gagap teknologi.
3.
Mempermudah kegiatan
belajar
handphone yang
dilengkapi feature seperti Document Viewer dapat membantu pelajar
dalam mempelajari materi dalam bentuk ebook
atau pdf secara portable dengan mudah dan Membantu
pelajar untuk berlatih English
conversation dengan format Mp3 atau Mp4.
4.
Memperluas jaringan
persahabatan.
Dengan handphone biasanya peserta didik
berkomunikasi dengan sesama temanya didalam lingkungan Madrasah ataupum di
lingkungan masyarakat sehingga hubungan persahabatan makin erat dan luas.[13]
b.
Dampak Negatif Handphone
pada peserta didik
Pengaruh handphone
terhadap proses belajar peserta didik memang cukup banyak. Selain dari segi
positif, banyak pula pengaruh negatif handphone yang patut diwaspadai dan
seharusnya dihindari.
1.
Konsentrasi belajar
menurun
Konsentrasi
terhadap pelajaran menjadi berkurang karena lebih mementingkan HP mereka yang
digunkan untuk ber-sms sama teman maupun membalas sms dari teman. Terlebih lagi
sekolah yang memiliki pengawasan yang kurang ketat sehingga para peserta didik
memiliki waktu luang untuk ber-sms. Waktu belajar pun banyak digunakan untuk
bermain handphone ataupun bersmsan,
selain itu waktu malam hari yang biasanya dahulu digunakan para pelajar untuk
belajar sekarang malah digunakan menelpon dan smsan. Bermain game saat pendidik menjelaskan pelajaran merupakan bukti
nyata bahwa handphone mudah mengalihkan perhatian peserta didik
terhadap pelajaran.
2. Mengganggu Perkembangan peserta didik :
a. Fitur-fitur yang tersedia di handphone seperti : kamera, games,
gambar, dan fasilitas yang lain, mudah mengalihkan perhatian peserta didik
dalam menerima pelajaran di sekolah (kelas).
b. Peserta didik mudah disibukkan
dengan memanggil/ menerima panggilan, sms, miscall
dari teman mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri.
c. Lebih parah lagi dengan handphone dapat untuk melakukan kecurangan dalam ulangan.
d. Dengan handphone peserta didik dapat mudah mengirim/menerima baik tulisan maupun
gambar yang tidak selayaknya dikonsumsi pelajar tingkat SMP/MTs. Kalau hal
tersebut dibiarkan, maka peserta didik akan dewasa sebelum waktunya, dan
peserta didik yang kita hadapi merupakan peserta didik yang taat dan patuh pada
permainan teknologi handphone.
3. Sangat berpotensi
mempengaruhi sikap dan perilaku peserta didik.
Jika
tidak ada kontrol dari guru dan orang tua. handphone
bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar yang mengandung unsur
pornografi. Ini adalah akibat yang paling berbahaya dalam penggunaan handphone oleh para pelajar. Mereka
menggunakan handphone dengan tujuan
yang menyimpang contohnya seperti mengisi video porno kedalam handphone.
5.
Membentuk sifat hedonisme
pada peserta didik
Ketika
keluar gadget terbaru yang lebih canggih, peserta didik berlomba-lomba untuk
mendapatkannya dengan memaksa kepada orang tua untuk dibelikan karena tidak mau
ketinggalan zaman, padahal mereka sebenarnya belum memahami benar manfaat
setiap fitur-fitur baru secara menyeluruh.[14]
Itulah beberapa pengaruh handphone
terhadap proses belajar peserta didik, baik dari segi positif maupun
negatif. Handphone memang
mempermudah, tapi penggunaannya pada peserta didik harus diawasi agar tidak
terjadi hal-hal yang merugikan.
5. Upaya Menanggulangi Dampak Penggunaan Handphone Terhadap Peserta Didik
Jika ditilik dari
dampak yang ditimbulkan maka diperlukan perhatian secara seksama dari berbagai
pihak yang terkait terutama dari orang tua dan pendidik,. Untuk itulah,
diperlukan upaya yang dapat diterapkan antara lain:
a)
Profesionalisme Pendidik di dalam Proses Pembelajaran
Profesionalitas pendidik sangat berperan
dalam proses pembelajaran sebagai upaya menanggulangi dampak negatif teknologi handphone. Hal ini memungkinkan
karena kemampuan pendidik dalam mengelolah kelas serta
menyampaikan materi-materi pembelajaran dengan menggunakan teknik-teknik, pembelajaran
tidak membosankan peserta didik sehingga peserta didik menjadi antusias
dalam mengikuti materi-materi pembelajaran yang disampaikan oleh pendidik dibandingkan dengan keasikan
bermain handphone.
b)
Membuat Aturan Pelarangan Penggunaan Handphone oleh Peserta Didik
disaat Proses Pembelajaran
Pelarangan pemakaian handphone pada saat proses belajar
mengajar sedang berlangsung sangatlah efektif karena peserta didik dapat konsentrasi penuh dalam mengikuti
pembelajaran dan peserta didik kemungkinan tidak dapat menyontek jawaban saat
ujian sehingga, mendorong semangat peserta didik untuk belajar dengan
sungguh-sungguh.
c)
Mensosialisasikan Dampak Negatif Penggunaan Handphone
Dengan adanya sosialisasi tentang dampak negatif penggunaan handphone seperti mengganggu kesehatan,
mempengaruhi prilaku belajar dan lain sebagainya, agar menciptakan kesadaran
peserta didik tentang bahaya handphone. Hal
ini akan mengurangi rasa ketergantungan peserta didik terhadap handphone karena dengan timbulnya rasa
takut peserta didik terhadap dampak negatif dari handphone.
d)
Peran Orang Tua
Selain pendidik yang bertanggung jawab atas keberhasilan
peserta didik yaitu orang tua karena meskipun upaya penanggulangan di Madrasah berjalan
dengan efektif namun ketika berada di rumah tidak ada peran orang tua dalam
menanggulangi dampak negatif handphone
pada peserta didik maka tetap saja peserta didik masi mempunyai kesempatan
untuk bermain game ataupun mengakses gambar porno grafi dan lain sebagainya, sehingga dibutuhkan peran orang tua
peserta didik.[15]
Sebagaimana kewajiban orang tua untuk membimbing anak. yang tertuang
dalam Q.S An Nisa’ ayat 9 sebagai berikut:
|·÷uø9ur úïÏ%©!$# öqs9 (#qä.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz ZpÍhè $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{ öNÎgøn=tæ (#qà)Guù=sù ©!$# (#qä9qà)uø9ur Zwöqs% #´Ïy ÇÒÈ
Terjemahanya:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir
terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa
kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.
Kepedulian orang tua pada aktivitas
anak-anaknya di luar lingkungan madrasah sangat memengaruhi pembentukan
mentalitas anak. Hal ini perlu dicermati karena keberadaan anak di lingkungan madrasah. Sehubungan
dengan itu, perlu kiranya di jalin hubungan kerjasama yang harmonis dengan
pihak keluarga sehingga peserta peserta didik dengan penuh kesadaran tidak mengakses
gambar-gambar yang berbau pornografi yang akhirnya dapat merusak mentalitas
dari peserta didik tersebut.
B. Kajian Konseptual Efektifitas Belajar Peserta Didik
1.
Pengertian efektivitas
Belajar
Untuk menghindari
kesalahan pemaknaan efektivitas belajar maka perlu di definisikan secara
spesifik antara efektivitas dan belajar. Kata efektif berasal dari bahasa Inggris
yaitu effective yang berarti berhasil, atau sesuatu yang dilakukan berhasil
dengan baik. Kamus ilmiah popular mendefinisikan efektivitas sebagai ketepatan
penggunaan, hasil guna atau menunjang tujuan. Menurut Robbins definisi
efektivitas adalah sebagai tingkat pencapaian organisasi dalam jangka pendek
dan jangka panjang.[16]
Efektivitas organisasi adalah konsep tentang efektif dimana sebuah organisasi
bertujuan untuk menghasilkan. Pendapat lain juga mengatakan efektifitas
merupakan kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang
ingin dicapai. Efektifitas adalah bagaimana seseorang berhasil mendapatkan dan
memanfaatkan metode belajar untuk memperoleh hasil yang baik.[17]
Menurut Muasaroh bahwa, efektivitas suatu program dapat
dilihat dari aspek-aspek antara lain:
a.
Aspek tugas atau fungsi, yaitu lembaga dikatakan efektivitas
jika melaksanakan tugas atau fungsinya, begitu juga suatu program pembelajaran
akan efektiv jika tugas dan fungsinya dapat dilaksanakan dengan baik dan peserta
didik belajar dengan baik.
b.
Aspek rencana atau
program, yang dimaksud dengan rencana atau program disini adalah rencana
pembelajaran yang terprogram, jika seluruh rencana dapat dilaksanakan maka
rencana atau progarm dikatakan efektif.
c.
Aspek ketentuan dan peraturan, efektivitas suatu program
juga dapat dilihat dari berfungsi atau tidaknya aturan yang telah dibuat dalam
rangka menjaga berlangsungnya proses kegiatannya. Aspek ini mencakup
aturanaturan baik yang berhubungan dengan pendidik maupun yang berhubungan
dengan peserta didik, jika aturan ini dilaksanakan dengan baik berarti
ketentuan atau aturan telah berlaku secara efektif.
d.
Aspek tujuan atau kondisi ideal, suatu program kegiatan
dikatakan efektif dari sudut hasil jika tujuan atau kondisi ideal program
tersebut dapat dicapai.[18]
Belajar adalah perubahan
yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari
pengalaman atau praktek yang diperkuat. Belajar merupakan hasil dari interaksi
antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia
dapat menunjukkan perubahan perilaku. Menurut teori ini dalam belajar yang
penting adalah bahwa bentuk input dan output dari stimulus dalam bentuk
tanggapan.
Stimulus adalah apa yang
pendidik kepada peserta didik, sedangkan reaksi atau respon dalam bentuk tanggapan
peserta didik terhadap stimulus yang diberikan oleh pendidik. Proses yang
terjadi antara stimulus dan respon penting untuk dicatat karena tidak dapat
diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respon,
oleh karena itu apa yang diberikan oleh pendidik (stimulus) dan apa yang
diterima oleh peserta didik (respon) harus dapat diamati dan diukur.
Azhar Arsyad mengatakan
bahwa belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang
mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan tingkat pengetahuan, keterampilan
dan sikapnya[19].
M. Dalyono mengatakan
bahwa belajar adalah suatu kegiatan atau usaha mengadakan perubahan didalam
diri seseorang mencakup perubahan tingkah laku, sikap kebiasaan, ilmu
pengetahuan dan keterampilan[20]
Belajar
adalah suatu proses untuk motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan
dan sikap.[21]
Belajar
adalah serangkaian kegiatan dan jiwa untuk mendapatkan perubahan perilaku
sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan yang
melibatkan kognitif, afektif dan psikomotorik.[22]
Dari beberapa
definisi diatas maka dapat di simpulkan,
efektivitas belajar merupakan sebuah ketercapaian tujuan atau saran yang di
inginkan dalam belajar peserta didik atau pembelajaran dalam kelas meliputi
perubahan prilaku pada peserta didik yang didasari pada tiga aspek yang ingin
di capai dalam belajar yaitu aspek afektif, kognitif dan psikomotorik.
2. Ciri-Ciri Efektivitas Belajar Peserta Didik
Menurut Harry Firman
keefektivan program pembelajaran ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Berhasil menghantarkan
peserta didik mencapai tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
b. Memberikan pengalaman
belajar yang atraktif, melibatkan peserta didik secara aktif sehingga menunjang
pencapaian tujuan instruksional.
c. Memiliki sarana yang
menunjang proses belajar mengajar.[23]
Berdasarkan ciri program
pembelajaran efektif seperti yang digambarkan diatas, keefektifan program
pembelajaran tidak hanya ditinjau dari segi tingkat prestasi belajar saja,
melainkan harus pula ditinjau dari segi proses dan sarana penunjang. Aspek
proses meliputi pengamatan terhadap keterampilan peserta didik, motivasi,
respon, kerjasama, partisipasi aktif, tingkat kesulitan pada penggunaan media,
waktu serta teknik pemecahan masalah yang ditempuh peserta didik dalam
menghadapi kesulitan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Aspek
sarana penunjang meliputi tinjauan terhadap fasilitas fisik dan bahan serta
sumber yang diperlukan peserta didik dalam proses belajar mengajar seperti
ruang kelas, laboratorium, media pembelajaran dan buku teks.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Belajar Peserta
Didik
Menurut Slameto untuk dapat mencapai
prestasi yang baik dan memuaskan bagi peserta didik, ada proses yang harus
dijalaninya, proses tersebut adalah belajar. Kesuksesan seseorang/peserta didik
dalam mencapai hasil yang maksimal dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor
tersebut terdiri dari dua bagian besar yaitu faktor intern dan fakor ekstern.
Pertama, faktor intern terdiri atas faktor jasmani yaitu kesehatan, cacat
tubuh; faktor psikologis yaitu intelegensi, perhatian, mina, bakat, motiv,
kematangan, kesiapan; faktor kelelahan. Kedua, faktor ekstern terdiri atas
faktor keluarga yaitu cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga,
suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang
kebudayaan; faktor sekolah yaitu metode mengajar, kurikulum, relasi pendidik
dengan peserta didik, relasi sesama peserta didik, kedisiplinan madrasah, alat
pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung,
metode belajar, tugas rumah; faktor masyarakat yaitu keadaan peserta didik
dalam masyarakat, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.[24]
Pendapat lain bahwa efektivitas
belajar merupakan suatu ketercapaian tujuan belajar, sehingga keberhasilan
belajar peserta didik sangat di tentukan pada proses belajar peserta didik Ada
tiga faktor yang mempengaruhi efektifitas belajar belajar peserta didik, yaitu
faktor internal, faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar.
1.
Faktor
internal
Faktor internal yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani
siswa. Faktor ini meliputi dua aspek:
a.
Aspek
Jasmani.
Kondisi umum jasmani yang menandai tingkat
kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan
intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran.
b.
Aspek
Psikologis
Banyak factor yang termasuk aspek
psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas belajar siswa. Namun,
di antara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih
esensial adalah tingkat kecerdasan/intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa,
minat siswa, motivasi siswa.
2.
Faktor
eksternal
Factor eksternal yakni kondisi lingkungan
di sekitar siswa. Factor ini juga terdapat dua macam :
a.
Lingkungan
social
Lingkungan social sekolah seperti guru,
staf, dan teman-teman sekelasnya yang dapat mempengaruhi semangat belajar
seorang siswa. Lingkungan masyarakat, tetangga, juga teman-teman bermain yang
disekitar perkampungan siswa tersebut juga mempengaruhi belajar siswa. Yang
paling berpengaruh dalam belajar siswa adalah lingkungan keluarga.
b.
Lingkungan
nonsosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan
nonsosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga
siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang
digunakan siswa.
3.
Faktor
pendekatan belajar
Faktor pendekatan belajar yakni jenis upaya
belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan
kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran. Factor-faktor di atas dalam
banyak hal sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.[25]
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Dan Jenis
Penelitian
1.
Pendekatan penelitian
Berkaitan dengan objek yang akan diteliti adalah ruang
lingkup sekolah atau madrasah maka peneliti menggunakan pendekatan deskriptif
untuk mengamati masalah atau fenomena yang diteliti. Penelitian deskriptif
merupakan penelitian yang menggambarkan fenomena atau populasi tertentu yang
diperoleh peneliti dari subyek yang berupa individu, organisasi atau perspektif
yang lain. Adapun tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk
menjelaskan aspek yang relevan dengan fenomena yang diamati dan menjelaskan
karakteristik fenomena atau masalah yang ada.
2.
Jenis penelitian
Jenis penelitian ini
menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif analisis
data bukan dalam bentuk angka tetapi dalam penelitian kualitatif menggunakan
analisis data dalam bentuk argument serta gambaran atau interpretasi mengenai
suatu objek yang diteliti. Data yang diambil berasal dari wawancara, catatan
lapangan, dokumentasi dan data lainnya
yang tidak dalam bentuk angka.[26]
Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian ilmiah,
bertujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks sosial secara alamiah
dengan mendahulukan proses interaksi
serta komunikasi yang mendalam antara peneliti dan dengan fenomena yang
diteliti.[27]
Penggunaan jenis kualitatif didasarkan pada pertimbangan
bahwa data yang diperoleh akan lebih lengkap, mendalam dan terpercaya. Sebagaimana Sesuai
permasalahan yang telah di rumuskan yaitu tentang “Dampak teknologi handphone pada efektivitas belajar siswa
dan upaya apakah yang dilakukan oleh sekolah dalam mengatasi pengaruh
perkembangan teknologi handphone
terhadap efektifitas belajar peserta didik di Mts Al-ikhwan Kecamatan Dumoga
Barat, Kab. Bolaang Mongondow.”
B. Kehadiran Peneliti
Dalam segala bentuk peneltian, factor kehadiran penelti
dilapangan atau lokasi dalam melaksanakan pengumpulan data yang berhubungan
engan obyek penelitian merupakan sebuah keharusan. Bila dalam melaksanakan
observasi studi awal, wawancara, okumentasi, maupun pengecekan akan sangat
menunjang valiitas data temuan.
C. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan
direalisasikan di Mts Al-Ikhwan Kec. Dumoga Barat, Kab. Bolaang Mongondow,
Prov. Sulawesi Utara”.
D. Sumber Data
Sumber data adalah subjek
dari mana data yang di peroleh.[28]
Jadi sumber data itu sumber informasi. Data itu harus diperoleh dari data yang
tepat, jika sumber data kurang tepat maka akan mengakibatkan data atau
informasi yang diperoleh kuurang akurat. Adapun sumber data yang diperlukan
dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu:
a.
Data Primer
Data primer adalah sumber
data yang diperoleh langsung dari lapangan.[29]
Yaitu data yang terjadi dilapangan penelitian, dalam hal ini, adalah Mall Computer yang mana data tersebut diperoleh melalui tehnik
wawancara dan observasi, kemudian akan diolah kembali oleh penulis.
b.
Data Sekunder
Data sekunder yaitu
sumber dari bahan bacaan.[30]
Data sekunder merupakaan data yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk yang
sudah jadi, seperti sejarah, organisasi perusahaan, kegiatan perusahaan,
laporan keuangan dan lain-lain.
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data
yang cukup dan sesuai dengan pokok permasalahan yang diteliti, maka penulis
menggunakan beberapa metode pengumpulan data dimana satu sama lain saling
berkaitan dan melengkapi. Secara garis besar, teknik yang dapat
digunakan untuk pengumpulan data dalam studi kasus dapat berupa wawancara,
observasi, dan dokumentasi:
1.
Metode Observasi
Sebagai metode ilmiah,
observasi berarti pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena
yang akan diselidiki.[31]
2.
Metode Wawancara / Interview
Yakni dimaksud dengan
wawancara adalah suatu metode pengumpulan data melalui pengamatan dengan
melakukan Tanya jawab secara lisan. Wawancara dilakukan sebagai teknik
pengumpulan data apabila peneliti akan melakukan studi pendahuluan untuk
menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juaga apabila peneliti ingin
mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam.[32]
3.
Metode Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari dokumen, yang berarti
barang-banrang yang tertulis. Didalam penerapan metode dokumentasi, peneliti
meneliti benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, dokumen,
peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.[33]
F. Teknik Analisis Data
Model analisis data yang akan digunakan
dalam penelitian ini adalah dengan analisis kualitatif yang dimulai dengan pengumpulan data ari
lapangan penelitian yang diperolehnyan. Tentunyan lebih baik jika
dikonfirmasikan dengan data pustaka, dengan tujuan penguji, menferifikasi, atau
menemukan suatu teori baru guna untuk mencapai tujuan dengan maksud tersebut.
Proses analisis data akan delakukan secara terus menerus didalam proses
pengumpulan data selama penelitian berlangsung.[34]

Tehnik analisis data yang digunakan adalah analisis
selama dilapangan model Miles And Huberman pada model ini analisis dapat dibagi
menjadi tiga tahapan, yaitu:[35]





Skema Proses Analisi Data
1.
Data Reduction (Reduksi
data) mereduksi data berarti merangkum memilih hal yang pokok, memfokuskan hal
yang penting, dicari tema dan polanya.
2.
Data Display (penyajian
data) dalam penelitian kualitatif,penyajian data bias dengan bentuk uraian
singkat, bagan, hubungan antar kategori flow
cahart dan sebagainya.Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data
dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Dengan
mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi,
perencanaan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami tersebut.
3.
Conclusion Drawing/veriflying,
kesimpulan awal yang
digunakan masi bersifat sementara, dan akan berubah bila ditemukan bukti yang
kuat mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.
Dalam tahap ini peneliti
melakukan pengujian dan kesimpulan untuk dibandingkan dengan teori yang
relevan. Pemantapan pengujian kesimpulan dihubungkan dengan data awal melalui
kegiatan member check, sehingga akan
menghasilkan suatu penelitian yang bermakna.
G.
Pengecekan Keabsahan Data
Tehnik pengecekan keabsahan data dilakukan
dengan ketekunan pengamatan dan
triangulasi yaitu tehnik pemeriksaan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain
selain data yang diperlukan. “Untuk keperluan pengecekan atau sebagai
pembanding data yang diproses”. Adapun triangulasi yang ditetapkan adalah:
a.
Triangulasi sumber, dilakukan dengan membandingkan data yang
diperleh dari data satu kedata yang lain yakni antara peserta didik.
b.
Triangulasi tehnik, dilakukan dengan membandingkan data yang
diperoleh melalui observasi dengan data yang diperoleh dari wawancara.
H.
Tahapan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan
tahapan sebagai berikut:
a.
Persiapan, dalam tahap ini penulis melakukan studi awal
untuk layak tidaknya permasalahan dan pengecekan sumber data pendukung
penelitian.
b.
Pelaksanaan, dalam tahap ini penulis mulai mengadakan
tahapan sebagai berikut: Pembuatan proposal penelitian, merancang instrumen
penelitian, mengumpu data, mengolah dan pengujian keabsahan data sebalum
menarik kesimpulan. Seluruh rangkaian kegiatan ini penulis mengadakan
konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan.
c.
Selanjutnya penarikan kesimpulan berdasarkan data yang
diperoleh serta perumusan saran sebagai bagian akhir dari kegiatan penelitian
ini.
[3]Farid
Hamid Dan Heri Budianto, Ilmu Komunikasi
:Sekarang Dan Tantangan Masa Depan, (Jakarta, Rineka Cipta, 2010) h. 32
[4]Lihat di (http://literaturbook.blogspot.com/2014/12/pengertian-efektivitas-dan-landasan .html) di akses pada tgl 27 desember 2014.
[5]Joy A.
Palmer, 50 Pemikir Paling Berpengaruh
Dalam Dunia Pendidikan,(jogjakarta: Ircisod, 2006) h. 134
[6] Slameto,
Belajar Dan Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhinya, (Jakarta, Rineka Cipta, 2010) h. 2
[7]Rusman., Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi
Dan Komunikasi. (Jakarta: Grafindo Persada, 2012), hal. 78
[12]Dewa Langit, Fungsi Handphone bagi Masyarakat Indonesian, (Jakarta: Penerbit
Lentera, 2010) h. 34
[13] Lihat di (http://amiie23new.blogspot.co.id/2014/09/makalah-pengaruh-penggunaan han dphone.html) diakses rabu 7 februari
2018: pukul 00:50 WITA.
[14]Lihat di (http://amiie23new.blogspot.co.id/2014/09/makalah-pengaruh-penggunaan-handphone.html) diakses rabu 7
februari 2018: pukul 00:58 WITA.
[15]Lihat di (http://amiie23new.blogspot.co.id/2014/09/makalah-pengaruh-penggunaan-handphone.html) diakses rabu 7
februari 2018: pukul 01:06 WITA.
[16]Imanudin
Ismail, Pengembangan Kemampuan Belajar
Pada Anak-Anak, (Jakarta: Bulan Bintang, 2009) h. 165.
[17]Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 20012) h. 33
[18]Lihat di,
(http://repository.unpas.ac.id/13070/4BAB%2520II.pdf) diakses
sabtu 13 januari 2018: pukul 17:30 WITA.
[23] Sardiman
A. M., Interaksi Dan Motivasi Belajar
Mengajar.(Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2013), h.15.
[31]Sutrisno
Hadi, Metodologi Research Jilid 2,
(Yogyakarta; Andi Offset,2010), h. 136
[32]Sugiyono,
Memahami Penelitian Kulitatif,
(Bandung: Alfabeta, 2013) Cet. Ke-8 h.74
[33]Suharsimi
Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek, (Jakarta:Rineka Cipta, 2002), h. 135
[34] Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan
R & D, (Bandung: Alfabeta, Cv, 2013), h. 243
Tidak ada komentar:
Posting Komentar