Minggu, 18 Februari 2018

Proposal Penelitian(Dampak penggunaan teknologi handphone terhadap efektivitas belajar peserta didik)

DAMPAK PENGGUNAAN HANDPHONE PADA PESERTA DIDIKhttp://.aminbonde.comhttp:www.aminbonde.blogger.comwww.http:bloggeraminbonde.com

DAMPAK PENGGUNAAN TEKNOLOGI HANDPHONE TERHADAP  EFEKTIVITAS BELAJAR  PESERTA DIDIK  (Studi Pada Mts Al-Ikhwan, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara)



MOHAMMAD AMIN BONDE
NIM:131012111


SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Meraih Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Pada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam



JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
IAIN SULTAN AMAI GORONTALO
2018





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam upaya menghadapi tantangan globalisasi dan juga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tentunya  hal ini, perlu di setarakan dengan kualitas manusia melalui jalur pendidikan yang bermutu. Menurut Sudarwan Denim dikutip dalam bukunya bahwa ”kemajuan kita sebagai suatu bangsa tidak bisa lebih cepat dari pada kemajuan kita di bidang pendidikan. Pikiran manusia adalah sumber daya dasar kita”.[1] Sehingga dengan majunya pendidikan akan menjadi solusi untuk menyelamatkan manusia itu sendiri dari bahaya akan pengaruh external yang akan membentuk kepribadian yang tidak berlandaskan pada etika dan moral yang pada hakikatnya di miliki oleh setiap manusia itu sendiri, Sehingga hanya perlu di tanamkan dalam prinsip kepribadiannya.
Islam memandang manusia merupakan mahluk Allah dengan segala potensinya yang sempurna sebagai khalifah fil ardh, dan terbaik diantara mahluk lainnya.[2] Manusia  mempunyai kemampuan untuk melihat masa depan. Dengan akal pikirannya manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan menciptakan teknologi yang diingininya. Oleh sebab itu, antara ilmu dan teknologi saling berkaitan erat karena tanpa ilmu tidak ada penerapan baru untuk teknologi dan tanpa teknologi tidak ada yang akan menikmati penemuan ilmu.
Indonesia merupakan Negara yang letak geografis berada pada  jembatan antara Barat dan Timur tengah sehingga dengan kondisi yang seperti ini memudahkan untuk masuknya berbagai budaya baik yang dari Timur tengah ataupun dari Barat. Dan ketika kualitas sumber daya manusia Indonesia ini berada di bawah dibandingkan dengan negara yang di sekelilingnya, maka hal inilah yang mendasari sehingga Indonesia menjadi negara konsumen. Berbagai macam trasformasi ilmu dan teknologi masuk dengan mudahnya dan di konsumsi oleh semua masyaraka Indonesia, hampir keseluruhan dan tidak memandang umur.
Pada dasarnya perkembangan IPTEK dengan tujuan untuk mempermudah atau mempercepat penyelesain pekerjaan manusia. Seperti kehadiran Handphone ditangan masyarakat, merupakan alat yang sangat membantu masyarakat dalam segala urusan. Sebagian besar para remaja mengatakan bahwa tujuan utama menggunakan handphone adalah, “Sebagai alat komunikasi dan sebagai penyambung silaturahmi, sebagai hiburan, dan tidak menutup kemungkinan sebagai alat tambahan membantu dalam belajar”.
Hal ini tidak bisa di pungkiri lagi sebagian besar masyarakat Indonesia terlebih khususnya peserta didik yang menjadi pengguna handphone. Dengan adanya perkembangan di bidang teknologi ini yang lebih canggih, sudah dilengkapi dengan berbagai aplikasi tambahan yang memudahkan untuk mengakses berbagai macam informasi baik yang di landaskan pada nilai etika dan moral ataupun sebaliknya yang mempunyai dampak negatif terhadap pendidikan peserta didik. Fakta membuktikan bahwa perkembangan teknologi saat ini sama sekali tidak meningkatkan prestasi belajar peserta didik. berbeda dengan prestasi peserta didik pendahulu kita dengan segala keterbatasannya bisa menciptakan pemuda yang berkualitas. Para peseta didik masa kini dengan adanya teknologi saat ini mereka masih saja kurang berprestasi. Seperti seorang yang naik dan diserang angin kencang, maka semakin kuat seseorang berpegangan. Namun  ketika datang angin pelan yang menyejukan justru membuat seseorang jatuh perkembangan teknologi deibaratkan angin pelan tersebut.
Menurut Farid dikutip dalam bukunya bahwa karena,  “budaya baca kita yang semakin rendah membenarkan pendapat bahwa kita lebih cenderung sebagai a speaking nation (berbicara) dari pada reading nation (membaca) atau katakanlah masyarakat wacana (discourse community) masi amat langka ditanah air. Kondisi ini menciptakan suatu keadaan yang disebut sebagai “kolonialisme elektronik”. Kolonialisme elektronik merupakan kurun waktu ketika supremasi Negara pemilik dan pengguna teknologi elektronik telah mengendalikan tidak hanya gaya hidup tetapi juga kesadaran akan kreatifitas yang bersahaja.[3]
Pada saat ini, banyak anak muda yang menggunakan barang elektronik yang sudah canggih. Salah satunya adalah handphone yang berbasis smartphone yang sering kita gunakan untuk alat berkomunikasi. Handphone yang kita gunakan umumnya digunakan untuk berkomunikasi, tapi tidakkah anda tau bahwa anak muda sering menyalah gunakannya, yaitu untuk melihat hal yang semestinya tidak patut mereka lihat seperti gambar atau video porno  apalagi sebagai pelajar. Sekalipun belum ada pembuktian secara akademis, bahwa maraknya peristiwa penyimpangan seksual dan pernikahan dini saat ini adalah didorong oleh penyalah gunaan tekologi seperti situs porno di handphone. Perilaku pelajar dewasa ini semakin menjadi-jadi. Tak sedikit pelajar yang ketahuan menyimpan video dan foto yang tidak berpendidikan di handphone.
Selain itu dengan adanya koneksi keinternet melalui handphone ini yang tidak dibatasi oleh situs yang dilandaskan pada nilai etika dan moral atau dengan kata lain bernuansa negatif seperti tersedianya situs porno, yang lebih muda diakses oleh siapapun sehingga kebanyakan peserta didik juga melakukan demikian, dan ini mempengaruhi tingkat belajar peserta didik, secara otomatis hal ni mempengaruhi usaha guru dalam memcapai pembelajaran yang efektif.
Tidak bisa dipungkiri perkembangan teknologi Handphone misalnya smartphone atau telepon genggam yang jenis android dengan  berbagai macam aplikasi, tentunya juga sangat membantu untuk  menyelesaikan berbagai macam pekerjaan, terlebih khususnya bagi peserta didik juga berguna untuk mempercepat, mempermudah untuk menyelesaikan tugas akademik seperti membantunya mendapatkan materi pembelajaran melalui google, browser atau aplikasi lainnya. Dengan begitu peserta didik mengumpulkan tugas dengan tepat waktu, tidak perlu jauh-jauh pergi ke warnet untuk mencari materinya. Namun perlu diingat bahwa Smartphone ini juga dilengkapi dengan berbagai jenis aplikasi hiburan yang berpengaruh terhadap proses belajar peserta didik. Pada dasarnya jenis aplikasi hiburan seperti game yang bisa mengasah logika anak juga sangat diperlukan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ini akan membuat anak ketagihan sehingga membuatnya lupa untuk belajar atau menyelesaikan tugas akademik.
Demikian terjadi di MTs Al-Ikhwan kecamatan Dumoga Barat kabupaten Bolaang Mongondow, sebagian besar peserta didik menggunakan handphone saat di waktu jam sekolah sehingga kosentrasi belajar tidak tertuju pada pelajaran yang di terima, beberapa peserta didik hasil belajarnya menurun.
Dari pihak sekolah belum ada upaya penanggulangan masalah ini secara serius, sebelumnya sudah ada aturan yang di buat namun  belum diberlakukan secara disiplin, sehingga masih ditemukan peserta didik yang secara aktiv menggunakan handphone.
Dari kondisi seperti inilah yang kemudian mendorong penulis untuk melakukan tindakan lanjutan melalui penelitian ilmiah  dengan judul “Dampak Penggunaan Handphone Terhadap  efektivitas belajar  Peserta didik  di MTs Al-Ikhwan, kecamatan Dumoga Barat, kabupaten Bolaang Mongondow, provinsi Sulawesi Utara”.
B.     Rumusan Masalah
Berdaasarkan masalah diatas maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut :
1.    Bagaimana dampak penggunaan handphone terhadap  efektivitas belajar peserta didik di MTs Al-Ikhwan ?
2.    Bagaimana upaya madrasah dalam menanggulangi dampak penggunaan teknologi handphone terhadap efektifitas belajar peserta didik di MTs Al-Ikhwan?


C.    Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah:
1.    Untuk mengetahui dampak penggunaan teknologi handphone terhadap efektivitas belajar  peserta didik di MTs Al-Ikhwan.
2.    Untuk mengetahui upaya madrasah dalam penanggulangi   dampak penggunaan teknologi handphone terhadap efektivitas belajar peserta didik di MTs Al-Ikhwan.
D.    Manfaat Penelitian
1.    Manfaat teoritis
a.    Bagi penulis penelitian ini berguna untuk menambah pengetahuan bagaimana dampak teknologi handphone terhadap efektifitas belajar peserta didik,.
b.    Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan acuan dalam mengatasi dampak negatif teknologi handphone atau sejenisnya serta menjadi bahan bagi pendidik untuk meningkatkan efektifitas belajar peserta didik.
2.    Manfaat praktis
Secara garis besar atau praktisnya di harapkan bagi semua pihak baik orang tua, pendidik dan peserta didik yang masi duduk di bangku sekolah supaya dapat memahami dan mengerti dampak positif dan dampak negatif dari perkembangan teknologi hanphone yang sangat berpengaruh bagi peserta yang masih duduk di bangku sekolah.
E.        Pengertian Judul Dan Definisi Operasional
Untuk lebih memudahkan dalam memahami isi dari tulisan ini maka penulis menguraikan beberapa pengertian istilah sebagai berikut:
a.    Teknologi handphone merupakan alat komunikasi elektronik dua arah yang bisa dibawa kemana saja dan memiliki kemampuan untuk mengirimkan pesan berupa suara. Pengertian tersebut merupakan pengertian handphone secara umum. Dalam keseharian kini manusia hampir tidak bisa lepas dari handphone. Apalagi dengan semakin berkembangnya handphone sehingga handphone memiliki berbagai fungsi sekaligus. Bukan hanya sebagai alat komunikasi saja namun telah berkembang menjadi alat dengan fungsi lainnya seperti sebagai media hiburan, media bisnis, dan sebagainya.
b.    Menurut kamus besar bahasa indonesia, kata efektif mempunyai arti efek, pengaruh, akibat atau dapat membawa hasil. Jadi, efektivitas adalah keaktifan, daya guna, adanya kesesuaian dalam suatu kegiatan orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju. Efektivitas pada dasarnya menunjukkan pada taraf tercapainya hasil.[4]
c.    Menurut Irish Murdoch, belajar adalah kemajuan moral karena merupakan asketisisme, mengurangi egoisme dan memperluas konsepsi kita tentang   kebenaran, juga memberikan visi yang lebih dalam,  lebih tajam dan lebih bijak tentang dunia. apa yang harus diajarkan disekolah, yakni memberi perhatian dan mengerjakan semuanya dengan benar. kekuatan kreatif memerlukan kemampuan ini. studi intelektual dan keterampilan menghasilkan kualitas kesadaran baru, kedalam persepsi dan kemampuan mengamati.[5] Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan tingkah laku tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.[6]
d.   Peserta didik adalah setiap manusia yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.
F.       Telaah Pustaka
Penelitian tentang pengaruh alat komunikasi handphone dalam bidang pendidikan, dengan judul “Pengaruh Budaya Penggunaan
Alat Komunikasi Handphone Terhadap Akhlak Siswa Di SMK Al-Hidayah
CinerePenelitian tersebut dilakukan oleh Pailin, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tahun 2010. Penelitian tersebut terdapat pengaruh yang positif antara variabel X yaitu budaya penggunaan handphone dengan variabel Y yaitu akhlak siswa dengan kategori cukup atau sedang, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa alat komunikasi handphone berpengaruh terhadap akhlak siswa.
Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Fadilah yang juga dalam bidang pendidikan dengan judul Pengaruh penggunaan alat komunikasi handphone (hp) terhadap aktivitas belajar siswa SMP negeri 66 Jakarta Selatan” Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah fakultas ilmu tarbiyah dan keguruan pada tahun 2011. dalam penelitian ini Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah sedemikian cepat sehingga tanpa kita sadari sudah mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia. Selain itu perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memang mempunyai dampak yang positif bagi manusia tapi dapat juga berdampak negatif jika perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini tidak dipergunakan sebagai mana mestinya yaitu khususnya pada alat komunikasi handphone. Dalam penulisan skripsi ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan “metode statistik deskriptif analisis yaitu metode yang ditujukan untuk mendesrifsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik berupa alami maupun rekayasa manusia dengan sifat kajiannya menggunakan ukuran, jumlah atau frekuensi” dan ditunjang oleh data-data yang diperoleh melalui penelitian lapangan (field research) yaitu mengumpulkan data dari objek yang diteliti. dari hasil penelitian ini  terdapat korelasi positif yang kuat atau tinggi antara penggunaan alat komunikasi handphone (HP) terhadap aktivitas belajar siswa di SMP Negeri 66 Jakarta selatan.
Penelitian skripsi ini memiliki kesamaan dan perbedaan dengan kedua penelitian diatas. Adapun persamaannya membahas tentang bagaimana dampak ataupun pengaruh dari penggunaan teknologi handphone dalam dunia pendidikan. Dan perbedaanya pada variabel yang dipengaruhi atau pada objek yang diteliti, penelitian sebelumnya berpusat pada ahlak peserta didik dan aktivitas belajar peserta didik. Sedangkan pada penelitian ini objek yang diteliti berpusat pada efektivitas belajar peserta didik. 
BAB II
KAJIAN TEORI
A.   Kajian Konseptual Teknologi Handphone
1.     Pengertian Teknologi  Handphone
Kata teknologi berasal dari bahasa Yunani, techne yang berasti “keahlian” dan logia yang berarti “pengetahuan”. Dalam pengertian yang sempit, teknologi mengacu pada obyek benda yang digunakan untuk kemudahan aktivitas manusia, seperti mesin, perkakas, atau perangkat keras[7].
Dalam pengertian yang lebih luas teknologi dapat meliputi: pengertian sistem, organisasi, juga teknik. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman, pengertian teknologi menjadi semakin meluas, sehingga saat ini teknologi merupakan sebuah konsep yang berkaitan dengan jenis penggunaan dan pengetahuan tentang alat dan keahlian, dan bagaimana ia dapat memberi pengaruh pada kemampuan manusia untuk mengendalikan dan mengubah suatau yang ada desekitarnya.
Kata teknologi secarah harfiyah berasal dari bahasa latin texere yang berarti menyusun atau membangun, sehingga istila teknologi seharusnya tidak terbatas pada penggunaan mesin meskipun dalam arti sempit hal tersebut sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari[8]
Jadi teknologi adalah semacam perpanjangan tangan manusia untuk dapat memanfaatkan alam dan suatu yang ada disekelilingnya secara lebih maksimal. Dengan demikian, secara sederhana teknologi bertujuan untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan manusia.
Teknologi komunikasi adalah peralatan perangkat keras, organisasi, struktur dan nilai-nilai sosial yang digunakan individu untuk mengumpulkan, memproses dan bertukar informasi dengan individu lainnya. Selanjutnya, yang lebih penting adalah sifat dan bagaimana fungsi media baru bagi sebagian besar orang untuk bertukar informasi.
Menurut Rusman dikutip dalam bukunya bahwa teknologi dapat dipahami sebagai "upaya" untuk mendapatkan suatu "produk" yang dilakukan oleh manusia dengan memanfaatkan peralatan (tools), proses dan sumberdaya (resources).[9]
Teknologi dalam arti ini dapat diketahui melalui barang-barang, benda-benda, atau alat-alat yang berhasil dibuat oleh manusia untuk memudahkan realisasi hidupnya di dalam dunia. Hal dimana juga memperlihatkan tentang wujud dari karya cipta dan karya seni manusia selaku homo technicus. Dari sini muncullah istilah “teknologi”, yang berarti ilmu yang mempelajari tentang “techne” manusia. Tetapi pemahaman seperti itu baru memperlihatkan satu segi saja dari kandungan kata “teknologi”. Teknologi sebenarnya lebih dari sekedar penciptaan barang, benda atau alat dari manusia selaku homo technicus atau homo faber. Teknologi bahkan telah menjadi suatu sistem atau struktur dalam eksistensi manusia di dalam dunia. Teknologi bukan lagi sekedar sebagai suatu hasil dari daya cipta yang ada dalam kemampuan dan keunggulan manusia, tetapi ia bahkan telah menjadi suatu “daya pencipta” yang berdiri di luar kemampuan manusia, yang pada gilirannya kemudian membentuk dan menciptakan suatu komunitas manusia yang lain.
Teknologi juga penerapan keilmuan yang mempelajari dan mengembangkan kemampuan dari suatu rekayasa dengan langkah dan teknik tertentu dalam suatu bidang. Teknologi merupakan Aplikasi ilmu dan engineering untuk mengembangkan mesin dan prosedur agar memperluas dan memperbaiki kondisi manusia atau paling tidak memperbaiki efisiensi manusia pada beberapa aspek.
Dalam bentuk yang paling sederhana, perkembangan teknologi dihasilkan dari pengembangan cara-cara lama atau penemuan metode baru dalam menyelesaikan tugas-tugas tradisional seperti bercocok tanam, membuat baju, atau membangun rumah.
Perkembangan teknologi memang sangat penting untuk kehidupan manusia jaman sekarang. Karena teknologi adalah salah satu penunjang perkembangan manusia. Dibanyak belahan masyarakat, teknologi telah membantu memperbaiki kehiduoan social dan ekonomi masyarakat.
Telepon genggam sering disebut handphone (HP) atau telepon selular (ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap, namun dapat dibawa kemana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel.[10] Handphone tersebut, merupakan pengembangan teknologi telepon yang dari masa kemasa mengalami perkembangan, yang dimana perangkat handphone tersebut dapat digunakan sebagai perangkat mobile atau berpindah pindah sebagai sarana komunikasi, penyampaian informasi dari suatu pihak kepihak lainnya menjadi semakin efektif dan efesien.
Begitu besar pengaruh kemajuan teknologi terhadap nilai-nilai kebudayaan yang dianut masyarakat, baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Kemajuan teknologi seperti televise, telepon dan telepon genggam (handphone), bahkan internet bukan hanya melanda masyarak kota, namun juga telah dapat dinikmati oleh masyarakat di pelosok-pelosok desa. Akibatnya , segala informasi baik yang bernilai positif maupun negatif, dapat dengan mudah di akses oleh remaja. Dan di akui atau tidak perlahan-lahan akan mulai mengubah pola hidup dan pola pemikiran pada kuhusunya remaja dalam hal ini para peserta didik itu sendiri.
2.    Sejarah Singkat Kemunculan Teknologi Handphone
Sejarah telepon seluler atau yang kita kenal dengan sebutan handphone, ternyata sudah ada dari jaman penjajahan, yaitu kira-kira tahun 1947 di negara paman sam alias Amrik dan Eropa sana. Pada tahun 1910 adalah cikal bakal telepon seluler yang ditemukan oleh Lars Magnus Ericsson, yang merupakan pendiri perusahaan Ericsson yang kini di kenal dengan perusahaan Sony Ericsson. Pada awalnya, orang Swedia ini medirikan perusahaan Ericsson memfokuskan terhadap bidang bisnis perlayan telegraf, dan perusahaanya juga tidak terlalu besar pada waktu itu.
Menurut Zambrana teknologi handphone pertama kali diperkenalkan 3 April 1973. Komunitas bisnis telepon bergerak mengingatnya sebagai hari lahirnya handphone. Saat itu untuk pertama kalinya pembicaraan jarak jauh dengan perangkat telefon bergerak portable dilakukan. Yang pertama kali mencobanya adalah Martin Cooper. Ide handphone datang dari Cooper yang bermimpi untuk membuat alat komunikasi yang fleksibel. Ia menginginkan untuk dapat keluar dari keterbatasan telefon tetap (fixed phone). Handphone Mr. Cooper ini memiliki berat hampir 1 kg dengan ukuran tinggi 33 cm. Sebagai teknologi baru, handphone tersebut tidak langsung dijual ke masyarakat, perlu waktu sampai 10 tahun sampai tersedia layanan komersial telepon bergerak.[11]
3.      Fungsi Teknologi Handphone
Menurut Dewa dikutip dalam bukunya bahwa Ponsel atau handphone kini merupakan sahabat wajib yang tidak bisa lepas dari diri masyarakat Indonesia. Berdasarkan paparan data Consumer Lab Ericsson, selain sebagai alat komunikasi, handphone memiliki fungsi lain. Dari riset ditahun 2009, terdapat lima fungsi handphone yang ada di masyarakat. Handphone yang dulunya hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, kini pun telah berubah. Berikut persentase 5 fungsi handphone bagi masyarakat Indonesia:[12]
1.Sebagai alat Komunikasi agar tetap terhubung dengan teman ataupun keluarga = 65%
2. Sebagai simbol kelas masyakarat = 44%
3. Sebagai penunjang bisnis = 49%
4. Sebagai pengubah batas sosial masyarakat = 36%
5. Sebagai alat penghilang stress = 36%.
Memang jelas manfaat handphone terbesar yaitu sebagai alat komunikasi agar tetap terhubung dengan teman ataupun keluarga, sesuai dengan fungsi awalnya, dan selain fungsi di atas handphone tersebut bisa bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang kemajuan teknologi dan untuk memperluas jaringan, dan handphone tersebut juga bisa sebagai penghilang stress karena berbagai feature handphone yang beragam seperti kamera, permainan, Mp3, video, radio, televisi bahkan jaringan internet seperti yahoo, facebook, twitter, dan lainnya.
4.    Dampak Handphone Pada Peserta Didik
Banyak orang percaya bahwa banyak sekali dampak handphone pada proses belajar peserta didik. Handphone sendiri atau yang biasa disebut dengan handphone ini tentu bukan hal asing lagi bagi para pendidik. Bila dulu penggunaannya mungkin hanya terbatas pada pendidik sekolah tingkat atas dan universitas, zaman sekarang peserta didik  SMP/MTs bahkan SDpun sudah banyak yang memiliki handphone.
Tak bisa dipungkiri bahwa handphone memang punya beragam manfaat, tak hanya bagi orang kantoran atau orang dewasa lainnya, tapi juga bagi para pelajar. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, banyak pula dampak negatif handphone yang merugikan para peserta didik.
a.     Dampak Positif Handphone Pada Peserta Didik
menurut Rahmi Untuk mengetahui lebih jauh apa saja pengaruh handphone  peserta didik,  berikut adalah beberapa contoh kegunaan handphone dari segi positif.
1.    Mempermudah komunikasi.
Dengan handphone peserta didik bisa berkomunikasi dengan pendidik ataupun orang tua meski sedang berada ditempat yang berbeda misalnya ketika peserta didik dirumah bisa berkomunikasi dengan pendidik dan ketika peserta didik di sekolah bisa berkomunikasi langsung dengan orang tua.
2.    Menambah pengetahuan tentang perkembangan teknologi.
Sekarang ini teknologi telah mengalami perkembangan pesat dengan berbagai macam produk teknologi yang canggih dengan mempunyai handphone peserta didik akan terlatih dengan sendirinya dalam menggunkan teknologi sehingga tidak membuatnya gagap teknologi.
3.    Mempermudah kegiatan belajar
handphone yang dilengkapi feature seperti Document Viewer dapat membantu pelajar dalam mempelajari materi dalam bentuk ebook atau pdf secara portable dengan mudah dan Membantu pelajar untuk berlatih English conversation dengan format Mp3 atau Mp4.
4.    Memperluas jaringan persahabatan.
Dengan handphone biasanya peserta didik berkomunikasi dengan sesama temanya didalam lingkungan Madrasah ataupum di lingkungan masyarakat sehingga hubungan persahabatan makin erat dan luas.[13]
b.    Dampak Negatif Handphone pada peserta didik
Pengaruh handphone terhadap proses belajar peserta didik memang cukup banyak. Selain dari segi positif, banyak pula pengaruh negatif handphone yang patut diwaspadai dan seharusnya dihindari.
1.    Konsentrasi belajar menurun
Konsentrasi terhadap pelajaran menjadi berkurang karena lebih mementingkan HP mereka yang digunkan untuk ber-sms sama teman maupun membalas sms dari teman. Terlebih lagi sekolah yang memiliki pengawasan yang kurang ketat sehingga para peserta didik memiliki waktu luang untuk ber-sms. Waktu belajar pun banyak digunakan untuk bermain handphone ataupun bersmsan, selain itu waktu malam hari yang biasanya dahulu digunakan para pelajar untuk belajar sekarang malah digunakan menelpon dan smsan. Bermain game saat pendidik menjelaskan pelajaran merupakan bukti nyata bahwa handphone  mudah mengalihkan perhatian peserta didik terhadap pelajaran.


2. Mengganggu Perkembangan peserta didik :
a. Fitur-fitur yang tersedia di handphone seperti : kamera, games, gambar, dan fasilitas yang lain, mudah mengalihkan perhatian peserta didik dalam menerima pelajaran di sekolah (kelas).
b. Peserta didik mudah disibukkan dengan memanggil/ menerima panggilan, sms, miscall dari teman mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri.
c. Lebih parah lagi dengan handphone dapat untuk melakukan kecurangan dalam ulangan.
d. Dengan handphone peserta didik dapat mudah mengirim/menerima baik tulisan maupun gambar yang tidak selayaknya dikonsumsi pelajar tingkat SMP/MTs. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka peserta didik akan dewasa sebelum waktunya, dan peserta didik yang kita hadapi merupakan peserta didik yang taat dan patuh pada permainan teknologi handphone.
3. Sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku peserta didik.
Jika tidak ada kontrol dari guru dan orang tua. handphone bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar yang mengandung unsur pornografi. Ini adalah akibat yang paling berbahaya dalam penggunaan handphone oleh para pelajar. Mereka menggunakan handphone dengan tujuan yang menyimpang contohnya seperti mengisi video porno kedalam handphone.
5.    Membentuk sifat hedonisme pada peserta didik
Ketika keluar gadget terbaru yang lebih canggih, peserta didik berlomba-lomba untuk mendapatkannya dengan memaksa kepada orang tua untuk dibelikan karena tidak mau ketinggalan zaman, padahal mereka sebenarnya belum memahami benar manfaat setiap fitur-fitur baru secara menyeluruh.[14]
Itulah beberapa pengaruh handphone terhadap proses belajar peserta didik, baik dari segi positif maupun negatif.  Handphone memang mempermudah, tapi penggunaannya pada peserta didik harus diawasi agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan.

5.    Upaya Menanggulangi  Dampak  Penggunaan Handphone Terhadap Peserta Didik
Jika ditilik dari dampak yang ditimbulkan maka diperlukan perhatian secara seksama dari berbagai pihak yang terkait terutama dari orang tua dan pendidik,. Untuk itulah, diperlukan upaya yang dapat diterapkan antara lain:
a)    Profesionalisme Pendidik di dalam Proses Pembelajaran
Profesionalitas pendidik sangat berperan dalam proses pembelajaran sebagai upaya menanggulangi dampak negatif teknologi handphone. Hal ini memungkinkan karena kemampuan pendidik dalam mengelolah kelas serta menyampaikan materi-materi pembelajaran dengan menggunakan teknik-teknik, pembelajaran tidak membosankan peserta didik sehingga peserta didik menjadi antusias dalam mengikuti materi-materi pembelajaran yang disampaikan oleh pendidik dibandingkan dengan keasikan bermain handphone.

b)   Membuat Aturan Pelarangan Penggunaan Handphone oleh  Peserta Didik disaat Proses Pembelajaran
Pelarangan pemakaian handphone pada saat proses belajar mengajar sedang berlangsung sangatlah efektif karena peserta didik dapat konsentrasi penuh dalam mengikuti pembelajaran dan peserta didik kemungkinan tidak dapat menyontek jawaban saat ujian sehingga, mendorong semangat peserta didik untuk belajar dengan sungguh-sungguh.
c)    Mensosialisasikan Dampak Negatif  Penggunaan Handphone
Dengan adanya sosialisasi tentang dampak negatif penggunaan handphone seperti mengganggu kesehatan, mempengaruhi prilaku belajar dan lain sebagainya, agar menciptakan kesadaran peserta didik tentang bahaya handphone. Hal ini akan mengurangi rasa ketergantungan peserta didik terhadap handphone karena dengan timbulnya rasa takut peserta didik terhadap dampak negatif dari handphone.
d)   Peran Orang Tua
Selain pendidik yang bertanggung jawab atas keberhasilan peserta didik yaitu orang tua karena meskipun upaya penanggulangan di Madrasah berjalan dengan efektif namun ketika berada di rumah tidak ada peran orang tua dalam menanggulangi dampak negatif handphone pada peserta didik maka tetap saja peserta didik masi mempunyai kesempatan untuk bermain game ataupun mengakses gambar porno grafi dan lain sebagainya, sehingga dibutuhkan peran orang tua peserta didik.[15]
Sebagaimana kewajiban orang tua untuk membimbing anak. yang tertuang dalam Q.S An Nisa’ ayat 9 sebagai berikut:
|·÷uø9ur šúïÏ%©!$# öqs9 (#qä.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz Zp­ƒÍhèŒ $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{ öNÎgøŠn=tæ (#qà)­Guù=sù ©!$# (#qä9qà)uø9ur Zwöqs% #´ƒÏy ÇÒÈ  
Terjemahanya:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.

Kepedulian orang tua pada aktivitas anak-anaknya di luar lingkungan madrasah sangat memengaruhi pembentukan mentalitas anak. Hal ini perlu dicermati karena keberadaan anak di lingkungan madrasah. Sehubungan dengan itu, perlu kiranya di jalin hubungan kerjasama yang harmonis dengan pihak keluarga sehingga peserta peserta didik dengan penuh kesadaran tidak mengakses gambar-gambar yang berbau pornografi yang akhirnya dapat merusak mentalitas dari peserta didik tersebut.




B.  Kajian Konseptual Efektifitas Belajar Peserta Didik
1.    Pengertian efektivitas Belajar
Untuk menghindari kesalahan pemaknaan efektivitas belajar maka perlu di definisikan secara spesifik antara efektivitas dan belajar. Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu effective yang berarti berhasil, atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Kamus ilmiah popular mendefinisikan efektivitas sebagai ketepatan penggunaan, hasil guna atau menunjang tujuan. Menurut Robbins definisi efektivitas adalah sebagai tingkat pencapaian organisasi dalam jangka pendek dan jangka panjang.[16] Efektivitas organisasi adalah konsep tentang efektif dimana sebuah organisasi bertujuan untuk menghasilkan. Pendapat lain juga mengatakan efektifitas merupakan kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang ingin dicapai. Efektifitas adalah bagaimana seseorang berhasil mendapatkan dan memanfaatkan metode belajar untuk memperoleh hasil yang baik.[17]
            Menurut Muasaroh bahwa, efektivitas suatu program dapat dilihat dari aspek-aspek antara lain:
a.    Aspek tugas atau fungsi, yaitu lembaga dikatakan efektivitas jika melaksanakan tugas atau fungsinya, begitu juga suatu program pembelajaran akan efektiv jika tugas dan fungsinya dapat dilaksanakan dengan baik dan peserta didik belajar dengan baik.
b.     Aspek rencana atau program, yang dimaksud dengan rencana atau program disini adalah rencana pembelajaran yang terprogram, jika seluruh rencana dapat dilaksanakan maka rencana atau progarm dikatakan efektif.
c.    Aspek ketentuan dan peraturan, efektivitas suatu program juga dapat dilihat dari berfungsi atau tidaknya aturan yang telah dibuat dalam rangka menjaga berlangsungnya proses kegiatannya. Aspek ini mencakup aturanaturan baik yang berhubungan dengan pendidik maupun yang berhubungan dengan peserta didik, jika aturan ini dilaksanakan dengan baik berarti ketentuan atau aturan telah berlaku secara efektif.
d.   Aspek tujuan atau kondisi ideal, suatu program kegiatan dikatakan efektif dari sudut hasil jika tujuan atau kondisi ideal program tersebut dapat dicapai.[18]
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau praktek yang diperkuat. Belajar merupakan hasil dari interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilaku. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah bahwa bentuk input dan output dari stimulus dalam bentuk tanggapan.
Stimulus adalah apa yang pendidik kepada peserta didik, sedangkan reaksi atau respon dalam bentuk tanggapan peserta didik terhadap stimulus yang diberikan oleh pendidik. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon penting untuk dicatat karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh pendidik (stimulus) dan apa yang diterima oleh peserta didik (respon) harus dapat diamati dan diukur.
Azhar Arsyad mengatakan bahwa belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan tingkat pengetahuan, keterampilan dan sikapnya[19].
M. Dalyono mengatakan bahwa belajar adalah suatu kegiatan atau usaha mengadakan perubahan didalam diri seseorang mencakup perubahan tingkah laku, sikap kebiasaan, ilmu pengetahuan dan keterampilan[20]
Belajar adalah suatu proses untuk motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan sikap.[21]
Belajar adalah serangkaian kegiatan dan jiwa untuk mendapatkan perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan yang melibatkan kognitif, afektif dan psikomotorik.[22]
Dari beberapa definisi  diatas maka dapat di simpulkan, efektivitas belajar merupakan sebuah ketercapaian tujuan atau saran yang di inginkan dalam belajar peserta didik atau pembelajaran dalam kelas meliputi perubahan prilaku pada peserta didik yang didasari pada tiga aspek yang ingin di capai dalam belajar yaitu aspek afektif, kognitif dan psikomotorik.
2.   Ciri-Ciri Efektivitas Belajar Peserta Didik
Menurut Harry Firman keefektivan program pembelajaran ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Berhasil menghantarkan peserta didik mencapai tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
b. Memberikan pengalaman belajar yang atraktif, melibatkan peserta didik secara aktif sehingga menunjang pencapaian tujuan instruksional.
c. Memiliki sarana yang menunjang proses belajar mengajar.[23]
Berdasarkan ciri program pembelajaran efektif seperti yang digambarkan diatas, keefektifan program pembelajaran tidak hanya ditinjau dari segi tingkat prestasi belajar saja, melainkan harus pula ditinjau dari segi proses dan sarana penunjang. Aspek proses meliputi pengamatan terhadap keterampilan peserta didik, motivasi, respon, kerjasama, partisipasi aktif, tingkat kesulitan pada penggunaan media, waktu serta teknik pemecahan masalah yang ditempuh peserta didik dalam menghadapi kesulitan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Aspek sarana penunjang meliputi tinjauan terhadap fasilitas fisik dan bahan serta sumber yang diperlukan peserta didik dalam proses belajar mengajar seperti ruang kelas, laboratorium, media pembelajaran dan buku teks.


3.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Belajar Peserta Didik
Menurut Slameto untuk dapat mencapai prestasi yang baik dan memuaskan bagi peserta didik, ada proses yang harus dijalaninya, proses tersebut adalah belajar. Kesuksesan seseorang/peserta didik dalam mencapai hasil yang maksimal dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor tersebut terdiri dari dua bagian besar yaitu faktor intern dan fakor ekstern. Pertama, faktor intern terdiri atas faktor jasmani yaitu kesehatan, cacat tubuh; faktor psikologis yaitu intelegensi, perhatian, mina, bakat, motiv, kematangan, kesiapan; faktor kelelahan. Kedua, faktor ekstern terdiri atas faktor keluarga yaitu cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan; faktor sekolah yaitu metode mengajar, kurikulum, relasi pendidik dengan peserta didik, relasi sesama peserta didik, kedisiplinan madrasah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah; faktor masyarakat yaitu keadaan peserta didik dalam masyarakat, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.[24]
Pendapat lain bahwa efektivitas belajar merupakan suatu ketercapaian tujuan belajar, sehingga keberhasilan belajar peserta didik sangat di tentukan pada proses belajar peserta didik Ada tiga faktor yang mempengaruhi efektifitas belajar belajar peserta didik, yaitu faktor internal, faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar.

1.    Faktor internal
Faktor internal yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. Faktor ini meliputi dua aspek:
a.    Aspek Jasmani.
Kondisi umum jasmani yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran.
b.    Aspek Psikologis
Banyak factor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas belajar siswa. Namun, di antara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial adalah tingkat kecerdasan/intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa.
2.    Faktor eksternal
Factor eksternal yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa. Factor ini juga terdapat dua macam :
a.    Lingkungan social
Lingkungan social sekolah seperti guru, staf, dan teman-teman sekelasnya yang dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Lingkungan masyarakat, tetangga, juga teman-teman bermain yang disekitar perkampungan siswa tersebut juga mempengaruhi belajar siswa. Yang paling berpengaruh dalam belajar siswa adalah lingkungan keluarga.

b.    Lingkungan nonsosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.
3.    Faktor pendekatan belajar
Faktor pendekatan belajar yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran. Factor-faktor di atas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.[25]
           









BAB III
METODE PENELITIAN
A.  Pendekatan Dan Jenis Penelitian
1.        Pendekatan penelitian
Berkaitan dengan objek yang akan diteliti adalah ruang lingkup sekolah atau madrasah maka peneliti menggunakan pendekatan deskriptif untuk mengamati masalah atau fenomena yang diteliti. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang menggambarkan fenomena atau populasi tertentu yang diperoleh peneliti dari subyek yang berupa individu, organisasi atau perspektif yang lain. Adapun tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk menjelaskan aspek yang relevan dengan fenomena yang diamati dan menjelaskan karakteristik fenomena atau masalah yang ada.
2.        Jenis penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif analisis data bukan dalam bentuk angka tetapi dalam penelitian kualitatif menggunakan analisis data dalam bentuk argument serta gambaran atau interpretasi mengenai suatu objek yang diteliti. Data yang diambil berasal dari wawancara, catatan lapangan, dokumentasi dan  data lainnya yang tidak dalam bentuk angka.[26] 
Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian ilmiah, bertujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks sosial secara alamiah dengan mendahulukan proses interaksi  serta komunikasi yang mendalam antara peneliti dan dengan fenomena yang diteliti.[27]
Penggunaan jenis kualitatif didasarkan pada pertimbangan bahwa data yang diperoleh akan lebih lengkap, mendalam dan terpercaya. Sebagaimana Sesuai permasalahan yang telah di rumuskan yaitu tentang “Dampak teknologi handphone pada efektivitas belajar siswa dan upaya apakah yang dilakukan oleh sekolah dalam mengatasi pengaruh perkembangan teknologi handphone terhadap efektifitas belajar peserta didik di Mts Al-ikhwan Kecamatan Dumoga Barat, Kab. Bolaang Mongondow.”
B.     Kehadiran Peneliti
Dalam segala bentuk  peneltian, factor kehadiran penelti dilapangan atau lokasi dalam melaksanakan pengumpulan data yang berhubungan engan obyek penelitian merupakan sebuah keharusan. Bila dalam melaksanakan observasi studi awal, wawancara, okumentasi, maupun pengecekan akan sangat menunjang valiitas data temuan.
C.    Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan direalisasikan di Mts Al-Ikhwan Kec. Dumoga Barat, Kab. Bolaang Mongondow, Prov. Sulawesi Utara”.
D.    Sumber Data
Sumber data adalah subjek dari mana data yang di peroleh.[28] Jadi sumber data itu sumber informasi. Data itu harus diperoleh dari data yang tepat, jika sumber data kurang tepat maka akan mengakibatkan data atau informasi yang diperoleh kuurang akurat. Adapun sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu:
a.    Data Primer
Data primer adalah sumber data yang diperoleh langsung dari lapangan.[29] Yaitu data yang terjadi dilapangan penelitian, dalam hal ini, adalah Mall Computer yang  mana data tersebut diperoleh melalui tehnik wawancara dan observasi, kemudian akan diolah kembali oleh penulis.
b.    Data Sekunder
Data sekunder yaitu sumber dari bahan bacaan.[30] Data sekunder merupakaan data yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk yang sudah jadi, seperti sejarah, organisasi perusahaan, kegiatan perusahaan, laporan keuangan dan lain-lain.
E.     Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data yang cukup dan sesuai dengan pokok permasalahan yang diteliti, maka penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data dimana satu sama lain saling berkaitan dan melengkapi. Secara garis besar, teknik yang dapat digunakan untuk pengumpulan data dalam studi kasus dapat berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi:
1.    Metode Observasi
Sebagai metode ilmiah, observasi berarti pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang akan diselidiki.[31]
2.    Metode Wawancara / Interview
Yakni dimaksud dengan wawancara adalah suatu metode pengumpulan data melalui pengamatan dengan melakukan Tanya jawab secara lisan. Wawancara dilakukan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti akan melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juaga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam.[32]
3.    Metode Dokumentasi
Dokumentasi  berasal dari dokumen, yang berarti barang-banrang yang tertulis. Didalam penerapan metode dokumentasi, peneliti meneliti benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.[33]
F.     Teknik Analisis Data
Model analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan analisis kualitatif  yang dimulai dengan pengumpulan data ari lapangan penelitian yang diperolehnyan. Tentunyan lebih baik jika dikonfirmasikan dengan data pustaka, dengan tujuan penguji, menferifikasi, atau menemukan suatu teori baru guna untuk mencapai tujuan dengan maksud tersebut. Proses analisis data akan delakukan secara terus menerus didalam proses pengumpulan data selama penelitian berlangsung.[34]
Oval: Data Collection            Tehnik analisis data yang digunakan adalah analisis selama dilapangan model Miles And Huberman pada model ini analisis dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:[35]
Oval: Data
Display
Oval: Data
Reduction
Oval: conclusions
Drawing/veriflying


Skema Proses Analisi Data

1.    Data Reduction (Reduksi data) mereduksi data berarti merangkum memilih hal yang pokok, memfokuskan hal yang penting, dicari tema dan polanya.
2.    Data Display (penyajian data) dalam penelitian kualitatif,penyajian data bias dengan bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori flow cahart dan sebagainya.Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, perencanaan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami tersebut.
3.    Conclusion Drawing/veriflying, kesimpulan awal yang digunakan masi bersifat sementara, dan akan berubah bila ditemukan bukti yang kuat mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.
Dalam tahap ini peneliti melakukan pengujian dan kesimpulan untuk dibandingkan dengan teori yang relevan. Pemantapan pengujian kesimpulan dihubungkan dengan data awal melalui kegiatan member check, sehingga akan menghasilkan suatu penelitian yang bermakna.
G.      Pengecekan Keabsahan Data              
                        Tehnik pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi yaitu tehnik pemeriksaan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain selain data yang diperlukan. “Untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding data yang diproses”. Adapun triangulasi yang ditetapkan adalah:
a.    Triangulasi sumber, dilakukan dengan membandingkan data yang diperleh dari data satu kedata yang lain yakni antara peserta didik.
b.    Triangulasi tehnik, dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh melalui observasi dengan data yang diperoleh dari wawancara.
H.      Tahapan Penelitian
                        Dalam penelitian ini penulis menggunakan tahapan sebagai berikut:
a.    Persiapan, dalam tahap ini penulis melakukan studi awal untuk layak tidaknya permasalahan dan pengecekan sumber data pendukung penelitian.
b.    Pelaksanaan, dalam tahap ini penulis mulai mengadakan tahapan sebagai berikut: Pembuatan proposal penelitian, merancang instrumen penelitian, mengumpu data, mengolah dan pengujian keabsahan data sebalum menarik kesimpulan. Seluruh rangkaian kegiatan ini penulis mengadakan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan.
c.    Selanjutnya penarikan kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh serta perumusan saran sebagai bagian akhir dari kegiatan penelitian ini.




                                               


[1] Sudarwan Denim.,Pengantar Kependidikan,(Bandung: Alfabeta, 2010) ,h. 8-9
[2] Susanto.,pemikiran pendidikan islam,(Jakarta: Amzah, 2010). h. 1 ,Cet ke-2.
[3]Farid Hamid Dan Heri Budianto, Ilmu Komunikasi :Sekarang Dan Tantangan Masa Depan, (Jakarta, Rineka Cipta, 2010) h. 32
                [4]Lihat di (http://literaturbook.blogspot.com/2014/12/pengertian-efektivitas-dan-landasan .html) di akses pada tgl 27 desember 2014.
[5]Joy A. Palmer, 50 Pemikir Paling Berpengaruh Dalam Dunia Pendidikan,(jogjakarta: Ircisod,  2006) h. 134
[6] Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta, Rineka Cipta, 2010) h. 2
[7]Rusman., Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi Dan Komunikasi. (Jakarta: Grafindo Persada, 2012), hal. 78
[8] Ibit.,79

[10] Ibid, h.23
[11]Zambrana. A.,  Pengertian Handphone, (Jakarta: Penerbit Lentera, 2010)  h. 20
[12]Dewa Langit, Fungsi Handphone bagi Masyarakat Indonesian, (Jakarta: Penerbit Lentera, 2010)  h. 34
[13] Lihat di (http://amiie23new.blogspot.co.id/2014/09/makalah-pengaruh-penggunaan han dphone.html) diakses rabu 7 februari 2018: pukul 00:50 WITA.
[14]Lihat di (http://amiie23new.blogspot.co.id/2014/09/makalah-pengaruh-penggunaan-handphone.html) diakses rabu 7 februari 2018: pukul 00:58 WITA.
[15]Lihat di (http://amiie23new.blogspot.co.id/2014/09/makalah-pengaruh-penggunaan-handphone.html) diakses rabu 7 februari 2018: pukul 01:06 WITA.
[16]Imanudin Ismail, Pengembangan Kemampuan Belajar Pada Anak-Anak, (Jakarta: Bulan Bintang, 2009) h. 165.
[17]Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 20012) h.  33
[18]Lihat di, (http://repository.unpas.ac.id/13070/4BAB%2520II.pdf) diakses sabtu 13 januari 2018: pukul 17:30 WITA.
[19]  Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Grafindo Persada, 2003), cet ke-5, h. 1
[20]  M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), cet ke-4, h. 49
[21]  Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Pendidikan,(Yogyakarta: Rineka Cipta, 2014) h. 22
[22]Ibid , h. 21
[23] Sardiman A. M., Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar.(Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2013),  h.15.
[24] Slameto, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h.74
[25] Rohani  Ahmad, Belajar dan pembelajaran efektif. (Jakarta: Rineka Cipta,2004). h. 33-34
[26]  Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005)., h, 11
[27]Ibib, h. 185
                [28]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 185
[29]  S. Nasution, Metode Resear, ( Bandung Jemmars, 1998), h.  56
[30]Ibib, h. 185
[31]Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid 2, (Yogyakarta; Andi Offset,2010), h. 136
[32]Sugiyono, Memahami Penelitian Kulitatif, (Bandung: Alfabeta, 2013) Cet. Ke-8 h.74
[33]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta:Rineka Cipta, 2002), h. 135

[34] Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R & D, (Bandung: Alfabeta, Cv, 2013), h. 243
[35] ibid., h.338